Chapter · marriedlife · romance

Everlasting part 9

Annyeong~ aku kembali dengan ff ini karena banyak banget yang DM instagram nanyain part 9. maaf slow update, maaf juga kalo ngga dapet feel-nya baca chapter ini, karena bikinnya juga buru-buru.

kalo ada pertanyaan seputar ff atau apapun, feel free to ask on my instagram: citraariska

happy reading!

 

“kenapa oppa tidak memberitahuku tentang Sena?” Kyuhyun menatap Nara bingung.

“aku tahu Sena yang mendorongku. Aku ingin menemui Sena sekarang”

Kyuhyun terkejut dengan keinginan istrinya. Menemui Sena? Untuk apa? Bagaimana keadaan Nara nanti jika bertemu dengan Sena? Pasti dia akan kembali teringat dengan kejadian buruk itu dan kembali bersedih. Pria itu berdiri dari kursi kebesarannya lalu berdiri tepat di depan Nara. Jarak mereka hanya selangkah.

“untuk apa menemuinya? Dia sudah dihukum dan kupastikan dia tak akan bisa menyakitimu lagi”

“aku ingin bicara dengannya”

Kyuhyun mengangguk, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Nara lalu berjalan menuju lift khusus untuknya. Ia akan mengantarkan Nara menemui Sena.

Lapas Wanita Seoul

Kyuhyun terus memperhatikan istrinya. Jujur saja, ia sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh istrinya. Apa Nara akan memaki Sena? Atau bahkan dia akan menghajar Sena jika mereka bertemu? Apapun itu, Kyuhyun akan mengetahuinya sebentar lagi.

Pandangannya teralih pada seorang gadis dengan baju tahanan yang sedang memasuki ruangan lalu duduk di kursi yang ada didepan Nara dan Kyuhyun.

“sayang sekali kejadian itu tidak membuatmu cacat” Sena berdecak. “Untuk apa menemuiku? Apa kau akan menertawakanku dengan keadaanku yang menjadi tahanan?” sinisnya.

“tidak, aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau ingin sekali aku celaka?”

“karena kau tak pantas bersanding dengan Kyuhyun oppa. Karenamu Kyuhyun oppa mencampakan kakakku dan membuat kakakku dipenjara hingga akhirnya dia gila. Jalang sepertimu tak pantas mendapatkan Kyuhyun oppa!” ucap Sena dengan nada tinggi.

“jaga bicaramu Park Sena!!” bentak Kyuhyun.

Nara terdiam, dia sedang berusaha meredam kemarahannya. “kau tidak berhasil membunuhku tapi kau berhasil membunuh calon bayi yang sedang mencoba berkembang di rahimku. Kau membunuh bayi yang tidak berdosa. Kau membuatnya meninggal sebelum dia melihat dunia ini. Kau telah menjadi pembunuh sekarang” jemari Nara terkepal erat.

Mata Sena membulat sempurna. Perkataan Nara membuatnya merasa sangat berdosa telah membunuh bayi yang ada di rahim Nara. Dia tidak tahu jika saat itu Nara hamil. Dia berdeham untuk menetralkan gejolak yang ada di hatinya. “pak polisi, kami sudah selesai” ujarnya tiba-tiba. Seorang polisi yang berada tak jauh dari mereka langsung kembali membawa Sena keluar dari ruangan itu untuk kembali ke sel tahanan.

Kyuhyun memeluk Nara erat. Ia ingin Nara melepas perasaan yang dari tadi ditahannya. “menangislah jika kau ingin menangis. Kau hebat sayang, kau mampu menahan emosimu dan tidak membuat keonaran di sini”

“kita kembali ke kantor sekarang” suara Nara teredam oleh pelukan Kyuhyun.

҉҈

Sesuai janji Yesung tadi siang, selesai bekerja divisi keuangan mengadakan pesta di restaurant barbeque. Mereka memilih duduk di meja panjang paling ujung. Memanggang daging lalu memakannya, tak lupa mereka juga memesan beberapa botol soju dan bir. Makan malam divisi keuangan dipenuhi dengan keceriaan. Mereka seperti menunjukan sikap asli mereka yang sebenarrnya tidak seserius saat di kantor.

Nara kembali menuangkan soju ke dalam gelasnya yang kosong. Jisoo mengatakan makan dan minum soju bisa menghilangkan penat. Dan hal itu telah dibuktikan oleh Nara. Perasaannya tidak sesesak tadi, perlahan ia bisa melupakan rasa sakit karena kehilangan calon bayinya dan amarahnya pada Sena.

“ya! Nara-ya.. berhentilah minum, kau sudah menghabiskan 3 botol soju” tegur Yesung. Tentunya ia tidak mau mendapat amukan dari Kyuhyun.

Nara hanya tersenyum seperti orang gila. Dia kembali memakan daging lalu meminum soju. “diamlah pak tua. Ini pertama kalinya aku minum soju. Selama ini aku melewatkan betapa nikmatnya memakan daging dengan soju” Nara mengambil botol soju di meja lalu memeluknya erat.

“aku rasa dia sudah mabuk” ucapan Bona membuat Yesung menegang. Bagaimana ia menjelaskan hal ini pada Kyuhyun besok. Pria itu mendesah kasar.

“jangan biarkan dia minum lagi” perintah Yesung.

Selanjutnya Nara hanya meminum air putih. Bona mengganti soju dengan air putih karena dia tidak mau Nara tambah mabuk. Segera Yesung menelfon Kyuhyun agar ia tidak terlalu disalahkan untuk kejadian ini. Setidaknya Kyuhyun akan tahu jika ia sudah melarang Nara meminum soju dan menggantinya dengan air putih.

Sekitar 15 menit kemudian Kyuhyun datang dengan baju santainya. Kaos polos berlengan panjang dan jeans membuat penampilannya tampak ramah dan tampan.

“kami sudah melarangnya minum, tapi lihatlah istrimu” ujar Yesung begitu melihat Kyuhyun mendekati Nara. Bona agak bergeser untuk memberi ruang pada Kyuhyun.

“ini bukan sojuuuuu… kembalikan sojuku” rengek Nara seperti anak kecil. Dia mengetuk-ketukan botol air minum pada meja.

Kyuhyun menghela nafasnya “sudah cukup. Kita pulang sekarang!”

Nara berteriak ketika Kyuhyun memegang pinggangnya. “YA!! Jangan berani menyentuhku! Aku sudah menikah”

“Ra-ya, ia suamimu” sambung Bona.

“oh ya? Woah daebak! Ia suamiku?” Nara mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. Menatap wajah tampan Kyuhyun. “heol, ia sangat tampan, bagaimana bisa aku menikahi pria yang sangat tampan ini?”

Kembali Kyuhyun menghela nafasnya jengah. Ia menarik Nara agar berdiri dari duduknya. “jangan pernah membawa Nara untuk minum lagi” Kyuhyun memperingatkan. Semua orang divisi keuangan mengangguk penuh ketakutan, dan menghela nafas penuh kelegaan ketika Kyuhyun telah pergi.

Rumah Kyuhyun

Kyuhyun membaringkan Nara di ranjang. Setelah mengoceh di sepanjang perjalanan pulang, Nara tertidur. Hati-hati Kyuhyun mengganti pakaian Nara dengan baju tidur. Tak lupa ia juga membersihkan make up istrinya. Sungguh Kyuhyun adalah suami idaman semua perempuan.

Setelah berganti pakaian, Kyuhyun juga ikut berbaring di samping Nara. Ia berbaring menyamping agar bisa memandangi wajah istrinya. Ia kembali teringat akan ocehan Nara saat di mobil.

‘apa kau sudah puas sekarang? aku keguguran dan akan sulit untuk hamil’

‘kenapa kau terus menggangguku?’

‘Sena gadis yang kejam’

‘maafkan eomma tidak bisa menjagamu nak’

‘oppa.. maafkan aku’

Kyuhyun membelai pipi Nara dengan penuh kasih sayang. “kau melalui hari yang berat. Lupakan semua kejadian itu” ucap Kyuhyun pelan. Ia terus memandangi Nara hingga terlelap.

Keesokan harinya, Nara membuka matanya yang terasa sangat berat. Dia berusaha duduk dengan susah payah. Kepalanya masih terasa sangat berat. Tentu saja karena ini adalah pertama kalinya Nara mabuk. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Dia terlihat bingung kenapa bisa di kamarnya, bukannya di restaurant barbeque. Pandangannya terhenti pada Kyuhyun yang sedang sibuk dengan macbooknya.

“kau ada di kamar kita, jangan khawatir”

“oppa?”

Kyuhyun menutup macbooknya lalu mengalihkan tatapannya pada Nara. “kau tidak ingat aku yang membawamu pulang?”

Nara hanya diam, dia mencoba mengungat kejadian semalam, tapi tak ada hasilnya. Yang ada di ingatannya hanya saat dia bersama seluruh anggota divisi keuangan makan malam di restaurant barbeque.

Kyuhyun berdecak “sebenarnya berapa botol soju yang kau minum? Bersihkan badanmu dan segera turun” Kyuhyun berjalan keluar dari kamar mereka.

Nara takut? Tentu saja ketakutan itu ada. Terlebih Kyuhyun menunjukan sikap tdak sukanya pada Nara. biasanya pria itu akan bermanja-manja ria dengan istrinya. Namun pagi ini ia sangat berbeda. Segera Nara berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia tidak ingin Kyuhyun bertambah marah karena terlalu lama menunggunya.

Nara terlihat lebih segar sekarang. Rambut panjangnya dia ikat menjadi satu, menunjukan lehernya yang putih seputih susu. Nara berdeham ketika Kyuhyun masih fokus pada ipadnya. Sudah pasti pria itu sedang membaca berita tentang perekonomian dunia.

“ahjumma, bawakan sup taugenya” ujar Kyuhyun

“selamat pagi ahjumma” sapa Nara ketika Jung ahjumma sudah berada di sampingnya membawakan sup. Jung ahjumma tersenyum ramah pada Nara sebelum kembali ke dapur.

“habiskan supnya, itu baik untuk orang yang sedang mabuk” ujar Kyuhyun tak ramah.

“oppa.. mian. Aku tidak bermaksud untuk minum soju tadi malam” sesal Nara.

“tidak bermaksud, tapi kau menghabiskan banyak botol soju hingga mabuk seperti itu” sinis Kyuhyun.

“aku hanya…” Nara menghentikan ucapannya. Dia tidak punya alasan lain untuk membantah Kyuhyun.

“sudah diam, dan cepat habiskan makananmu” Kyuhyun menaikan nada bicaranya. Ia kesal. Itu sudah pasti.

Nara hanya menurut. Segera dia memakan sarapannya dengan tenang. Di dalam hatinya, Nara mencaci maki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia membuat Kyuhyun marah seperti ini.

Kyuhyun berdiri dari duduknya ketika melihat Nara sudah menghabiskan sarapannya. “aku akan mengurus sesuatu. Kau di rumah saja, tidak usah bekerja”

Hati Nara terasa sakit. Kyuhyun berjalan melaluinya begitu saja, tanpa menciumnya. Meninggalkan Nara sendiri di ruang makan dengan perasaannya yang tak bisa dijelaskan. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.

“nyonya, ada apa?”

Nara menggeleng, dia menghapus air matanya cepat sebelum tersenyum pada Jung ahjumma. “tidak apa-apa ahjumma. Terima kasih untuk sarapannya. Aku akan kembali ke kamar”

Dengan langkah lesunya Nara menaiki tangga, kembali masuk ke dalam kamarnya.

Perempuan itu duduk di sofa yang terletak dipinggir jendela. Dia memandang langit cerah dengan tatapan sedihnya. Apa yang harus dilakukannya agar Kyuhyun mau memaafkan dirinya? Nara terus menangis dan menangis, menyesali perbuatannya semalam. Seandainya saja dia tidak meminum soju, Kyuhyun tidak akan marah dan bersikap dingin padanya.

҉҈

Hari ini adalah hari sabtu di mana semua pasangan kekasih menghabiskan waktu bersama. Nara tersenyum getir melihat pasangan yang tak malu menunjukan kemesraan mereka di tempat umum. Perasaan Nara semakin sesak, dia sangat merindukan suaminya yang sudah dua hari ini tak dilihatnya. Nara semakin mempercepat langkahnya melewati taman. Dia akan mengunjungi rumah atap Bona.

Tak lama setelah Nara mengetuk pintu, Bona membukakan pintu rumahnya. Gadis itu terkejut melihat Nara berdiri di depannya dengan mata yang sembab. Istri presdirnya itu juga tidak mengenakan make-up.

“Bona-ya” Nara merengek.

“ibu presdir? Cepat masuk sebelum para nyamuk menggigit kulit indahmu” Bona membawa Nara duduk di atas sofa kecil yang ada di rumahnya.

“apa yang terjadi padamu?” tanya Bona tanpa basa-basi.

Nara mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah Bona. “adik-adikmu tidak pulang?”

“mereka sibuk belajar untuk menghadapi ujian. Ada apa denganmu? Kenapa kau ke sini dengan keadaan yang menyedihkan, huh?”

“Kyuhyun..” Nara menangis.

“ada apa dengan presdir?” tanya Bona tak sabaran.

“Kyuhyun marah padaku, dan sudah dua hari ini aku tak melihatnya”

“apa presdir marah karena kejadian kemarin lusa?”

Nara mengangguk frustasi. Tangisannya bertambah semakin kencang. Melihat itu Bona langsung memeluk Nara untuk menenangkannya. “bagaimana jika ia menceraikanku?”

“apa kau sudah gila? Presdir tidak akan menceraikanmu hanya karena masalah kecil ini”

“tapi selain itu, sebenarnya aku akan sulit untuk mengandung Bona-ya.. karena kecelakaan di tangga itu membuat rahimku lemah dan jika aku hamil, aku akan rentan terhadap pendarahan”

“ya Tuhan Ra-ya… jangan bersedih. Presdir sangat mencintaimu”

Nara tidak mendengarkan Bona. Dia tetap menangis hingga pada akhirnya Bona merasa lelah melihat Nara yang terpuruk seperti ini. Gadis itu menuntun Nara menuju ranjangnya. “menangislah sampai kau puas, lalu setelah itu pulanglah. Presdir pasti mencarimu”

Nara kembali tersenyum getir dalam tangisnya. Mencari? Kyuhyun mencarinya? Apa itu mungkin? Bahkan selama dua hari mereka tidak bertemu, Kyuhyun hanya mengiriminya pesan sebanyak satu kali. Itupun hanya berisi pemberitahuan bahwa ia tidak akan pulang dan perintah untuk tidur. Tanpa kata cinta, juga panggilan sayang. Nara semakin terisak dengan tangisnya.

҉҈

Tepat pukul 10 malam barulah Nara memasuki rumahnya. Tadi dia ketiduran setelah menangis sesunggukan di rumah Bona. Nara menghela nafasnya melihat rumahnya yang sangat sepi. Suaminya pasti tidak pulang lagi. apa suaminya benar-benar marah padanya hingga meninggalkannya sendiri di rumah? Langkah kaki Nara terhenti ketika melihat Kyuhyun berdiri di depan tangga.

“Dari mana saja Hwang Nara?! bukankah aku menyuruhmu untuk tetap di rumah?” suara Kyuhyun yang menggelegar memecah keheningan. Ia marah pada Nara? tentu saja. Kemarahannya yang kemarin belum reda, dan hari ini kemarahannya bertambah karena Nara pergi tanpa pamit. Tadi sepulang dari kantor Heechul, Kyuhyun panik karena tak menemukan Nara. Ia langsung melacak keberadaan Nara dengan ponsel pintarnya, dan kelegaan memenuhi hatinya ketika menemukan Nara berada di rumah salah satu pegawainya yang menjadi teman dekat Nara, Lee Bona.

Nara diam sejenak, memikirkan apa yang harus dikatakannya pada suaminya. “jangan berpura-pura mengkhawatirkanku. Kau mengcuhkanku selama dua hari” gadis itu berjalan melewati Kyuhyun.

Perasaan Kyuhyun sakit ketika melihat mata sembab Nara. Istrinya baru saja menangis. Segera ia menyusul Nara yang sudah berjalan terlebih dahulu ke kamar mereka.

“apa yang terjadi padamu?” tanya Kyuhyun yang baru saja memasuki kamar. Ia melihat Nara meringkuk dibalik selimut dan tubuhnya bergetar. Nara menangis.

“Hwang Nara! katakan padaku!! Apa kau sakit?”

“ya, hatiku sangat sakit. Mungkin aku bisa mati jika oppa mendiamkanku terus” ucap Nara disela isak tangisnya.

“apakah sekarang oppa menyadari jika aku tidak pantas menjadi pendampingmu seperti yang dikatakan Sena? Lalu apakah oppa akan meninggalkanku?” lanjut Nara sebelum tangisnya semakin menjadi.

Kyuhyun menurunkan selimut Nara agar dapat melihat wajah cantik istrinya. Menghapus air mata istrinya dengan penuh kasih sayang. Hati Kyuhyun juga sakit melihat Nara seperti ini. Ia hanya ingin Nara merenungkan kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Tapi yang didapatnya malah kondisi Nara yang menyedihkan.

“tidak seperti itu sayang. Maafkan aku eoh?” Kyuhyun membungkuk untuk mencium Nara. “aku mencintaimu. Ssssst.. jangan menangis lagi”

“oppa pergi meninggalkanku begitu saja kemarin”

“bangun!” perintah Kyuhyun tegas. Nara langsung menurutinya begitu saja. Saat Nara sudah duduk, Kyuhyun langsung melumat bibirnya tanpa ampun. Membabi-buta menciumnya. Tidak lembut, namun juga tidak terlalu kasar. Bisa dibilang kasar dalam batas wajar karena Nara masih bisa menerimanya.

“kau memang tak bisa di hukum dengan cara yang biasa. Tapi aku sekarang tahu jika ini adalah cara menghukummu yang paling tepat” Kyuhyun kembali menempelkan bibirnya di atas bibir Nara. Kembali meraup bibir berwana merah muda milik Nara hingga pemiliknya merintih kesakitan.

“jangan ulangi lagi kesalahanmu” ucap Kyuhyun setelah menyelesaikan ciumannya.

Nara mengangguk, tak lama kemudian memeluk suaminya erat. Selama dua hari ini Nara sangat merindukan berada dipelukan suaminya seperti ini. “mianhae”

 

TBC…..

 

sepertinya part 10 bakal aku protect, untuk password bisa DM instagram, sebutin id yaa. Dan aku belum bisa pastiin post part 10 kapan. Tugas kuliah numpuk, skripsi juga belum kelar 😦 mian mian~

see you on the next chapter~ Kisskiss

with love,

Chokyulate

Advertisements

72 thoughts on “Everlasting part 9

  1. Kyuhyun tega baget sama nara dia menghukum nara dengan ninggalin dan diemin nara terus, untung aja kyu ga bisa marah lama-lama jadi mereka bisa cepat berbaikan…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s